Saturday, 29 November 2014 2 komentar

MELODRAMA (II)



“Meskipun itu didunia hitam dan putih.Tak ada kata, tak ada suara. Hanya berbalut kedamaian yang indah dan tenang”


Dua insan yang sedang diselimuti cinta itu akhirnya menjalin sebuah hubungan special. Cinta yang tidak memandang kenyataan tabu dan selalu dihiasi dorongan semangat untuk mengarungi derasnya ombak kehidupan yang selalu mereka temui.

                Pagi hari di taman yang biasa, dua sejoli itu terlihat sedang bercengkrama dengan alam sekitar yang begitu indahnya. Percakapan yang satu sama lain saling melengkapi dengan suara dan isyarat terasa begitu indah dan tenang. Namun ketenangan itu sirna setelah Polutan kehidupan bertandang dan menyerangsama seperti biasanya. Terlihat sepasang gadis dan lelaki lain mendekati mereka sambil melontarkan cacian demi cacian yang sangat mengganggu. Seperti polusi yang mengotori udara segar di pagi hari.
                Terlihat mata indah Melodi berkaca-kaca, mungkin karena cacian sang polutan tadi. Setegar apapun Melodi, akhirnya jatuh juga air matanya membasahi pipi merahnya.Disampingnya terlihat Rama yang menahan amarah kepada pasangan polutan tadi.Namun amarah itu perlahan sirna setelah tangan Melodi menggenggam erat tangan Rama yang mengisyaratkan kelembutan hati seorang Melodi yang seakan menyapu amarah dari hati Rama. Dan amarah pun sirna setelah kepergian sang polutan tadi.
                Rama menggenggam tangan Melodi sambil menatap matanya dalam-dalam sekan meyakinkan bahwa hubungan ini akan tetap terjaga.
                Pagi hari yang mendung dikamar Rama, terdengar suara handphone berdering tanda sebuah pesan masuk. Rama pun mengambil handphonenya dan membuka pesan dengan nama pengirim ialah Melodi.
“Rama sayangku, maafkan aku telah membangunkan tidurmu di pagi yang mendung ini.Aku ingin mengatakan suatu hal kepadamu.Bukannya aku lelah dengan hubungan kita, bukannya aku menyerah dan tak mau berjuang mengarungi lautan kehidupan dengan bahtera cinta kita bersama.Namun aku tak sanggup melihat seorang yang kusayang selalu menanggung derita akibat kekuranganku ini.Dunia kita berbeda, aku hidup didunia hitam yang kelam, sedangkan kau hidup didunia putih yang indah.Aku tak mau dunia indahmu selalu tersurami oleh kehadiran diriku ini.Sekali lagi maafkan aku Rama.Tapi aku akan selalu mencintaimu”.
                Membaca pesan Melodi tersebut, hati Rama tak karuan.Dan iapun segera membalas pesan tersebut.
“Melodi sayangku, apa maksud dari pesanmu ini?Ungkapan ini tidak menggambarkan dirimu yang selalu tegar dalam mengarungi ombak kehidupan.Apakah kau tega melihat dunia indahku yang selalu kau hiasi didalamnya hancur lebur tak bermakna?Apakah kau ingin begitu?Apakah kau masih ingat dengan janji kita?Bahwa cinta kita adalah cinta yang selalu mendukung dan menguatkan.Apakah kau sudah lupa dengan semua ini? Tak peduli seperti apa keadaanmu, tapi kau harus tahu bahwa kaulah yang selalu sempurnakan hidupku. Ingatlah itu selalu Melodi.Aku akan menemuimu sekarang”.
                Setelah membaca pesan dari Rama, mata Melodi meneteskan air mata entah itu karena sedih, haru, atau senang karena penjelasan dari pesan Rama.
                Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Melodi, lalu Melodipun membuka pintu kamarnya.Terlihatlah sosok orang tua yang mana itu adalah ayah dari Melodi.Beliau memberitahukan bahwa Rama ada di ruang tamu ingin menemuinya.
                Diruang tamu tengah terduduk dua orang yang terdiam seribu bahasa, tak lain dan tak bukan adalah Rama dan Melodi. Tak lama Rama pun memulai percakapan.
“Sayang lihat aku.Apakah kau meragukan kasih sayang dan rasa cintaku kepadamu?Perlu kau tahu, bahwa aku sudah lama mengagumimu. Tahukah kau bahwa kaulah alasan kenapa aku sering sekali pergi ke taman itu. Dan perlu kau tahu, berkat keindahanmulah keberanianku muncul untuk mendekatimu.Dan harus kau tahu, bahwa kaulah yang selalu mewarnai hidupku”.
                Tanpa berkata-kata, Melodi langsung memeluk erat Rama sambil menteskan air mata bahagia.Dan tak lama datanglah ayah Melodi menghampiri mereka berdua dan bertanya.
“Rama, Melodi. Kalian telah saling mencintai.Seyakin apakah kalian dengan hubungan ini?”
                Dengan optimis dan penuh keyakinan Rama pun menjawab.
“Aku sangat yakin ayah. Karena aku percaya, bahwa cinta akan tetap hidup sekalipun dalam Melodrama. Tak ada kata yang bisa diucap, tak ada suara yang bisa didengar.Hanya sinyal cinta dan radar tulus yang mampu bercengkrama. Dalam keheningan sang Melodrama”.


THE END ...
 


2 komentar

MELODRAMA (I)



“Tak ada kata yang bisa diucap, tak ada suara yang bisa didengar”

              
D
i taman yang indah itu, terlhat gadis cantik berkulit putih seputih salju, berambut panjang kemerahan dengan dress berwarna putih bersih bagaikan seorang bidadari terduduk diam di kursi taman berwarna putih pula. Tatapannya melihat kesekitar dan di wajahnya selalu tersirat senyuman karena keindahan yang dilihatnya. Tak jauh disana, dibawah pohon apel, seorang lelaki tampan dengan kemeja birunya terduduk diam dan mencuri-curi pandang kearah sang gadis cantik tadi. Terlihat senyum kagum dari wajah sang lelaki disaat matanya memandangi sosok indah yang sedang terduduk di kursi taman itu. Mungkin tak sedetikpun lelaki itu melewatkan keindahan sang bidadari yang sedang terduduk di kursi taman tersebut.

                Esok hari dipagi itu, masih sama pemandangan di taman itu, yaitu seorang gadis cantik bagai bidadari terduduk dikursi taman yang sama. Dan juga seorang lelaki yang selalu memperhatikan si gadis dari bawah pohon apel. Dari hatinya yang paling dalam, si lelaki ingin sekali berkenalan dengan gadis tersebut, tapi apa daya, nyalinya belum terisi penuh untuk mendekati sosok indah itu. Dan ia masih bertahan dengan merasakannya dari jauh.
                Dihari ketiga masih ditempat yang sama, suasana taman semakin indah dengan kicauan burung-burung di pagi itu. Sang lelaki yang selalu duduk dibawah pohon apel itu terlihat guratan berbeda diwajahnya.Guratan yang selalu cekung kini berubah menjadi guratan cembung. Sambil melihat kearah kursi taman yang selalu diduduki oleh seorang bidadari itu ia berkata.
“Pagi ini masih indah, tapi kemanakah sang sosok indah yang selalu melengkapi pagi-pagi sepertibiasanya?”
Dan benar saja, ternyata sang gadis tidak terlihat disana seperti biasanya. Namun tak lama kemudian datanglah si gadis kearah kursi taman yang biasa ia duduki. Guratan cembung dari wajah sang lelaki itu perlahan-lahan berubah menjadi guratan cekung kembali.
                Seakan ada kekuatan yang merasuki tubuhnya, si lelaki berjalan dengan santainya kearah gadis itu. Dan dia duduk disebelahnyaSi gadis menoleh kearah sang lelaki dan tersenyum. Kemudian dibalaslah senyuman itu oleh sang lelaki. Lalu si lelaki memulai percakapan.
“Pagi yang indah dan juga hari yang cerah.Apakah suasana hatimu seindah hari ini?”
Si gadis hanya terdiam.Lalu si lelaki mengulang kembali perkataannya. Dan sama, si gadis masih saja terdiam. Tak menyerah si lelaki akhirnya menyodorkan tangannya sebagai tanda perkenalan diri, dan akhirnya si gadis menyadarinya dan menjabat tangan si lelaki itu.
“Aku Irama, tapi kau bisa memanggilku Rama. Kamu siapa?” ucap si lelaki.
Si gadis tersenyum dan melakukan gerakan aneh pada tangannya.Gerakan itu terlihat seperti sebuah bahasa isyarat.Si lelaki itu tampak kebingungan, terlihat dari kerutan didahinya. Si gadis tersenyum melihat kebingungan sang lelaki itu dan diapun mengambil sebuah buku catatan kecil dan sebuah pena dari dalam tasnya yang sedari tadi ia kenakan. Ia menuliskan sesuatu di buku catatan kecil itu.
“Hai Rama, aku Melodi. Kamu bingungkan kenapa aku memilih menulis untuk menjawab pertanyaanmu?” tulis sang gadis. Dan dibalas dengan anggukan sang lelaki. Kemudian si gadis melanjutkan tulisannya.
“Jangan kaget ya, dan mungkin kamu takkan menyangka bahwa aku ini adalah seorang gadis yang tuli dan bisu”. Si lelaki terlihat terbengong setelah membaca tulisan sang gadis.
“Apakah kamu masih mau berkenalan denganku setelah mengetahui kenyataan ini?”.Si gadis meneruskan tulisannya.
                Rama melihat kearah Melodi dan tersenyum kepadanya, dan dibalaslah senyuman Rama oleh Melodi.Lalu Melodi meneruskan tulisannya kembali.
“Tenang saja Rama, aku bisa mengetahui apa yang kamu ucapkan.Karena aku bisa membaca gerakan bibirmu”.
“Tak peduli apakah kamu bisa berbicara atau tidak, bisa mendengar atau tidak.Aku tetap senang bisa berkenalan denganmu Melodi”.Balas Rama.
                Merekapun melanjutkan percakapan demi percakapan dengan guratan bahagia pada masing-masing wajahnya.

To be continued …
 
;