A
|
ku terduduk manis dengan sebuah gitar ditanganku, dan kau
terlihat menawan dengan berjalan kearahku. Dengan melihatmu, ritme indah telah
tercipta, walaupun ku tak sadar aku yang mainkan. Aku sadar bahwa inilah keajaiban,
keajaiban yang telah datang berada tepat didepanku. Yang membuat jiwa baru
kedalam dawaiku. Terdengar komposisi melodi indah disekelilingku yang membuatku
semakin yakin bahwa inilah dunia yang sesungguhnya. Dunia yang terdengar
seperti alunan musik romantis yang membuat batu menjadi melankolis.
Aku sandarkan gitar tepat
disampingku, karena aku tak mau menduakan sosok realistis yang tersenyum manis
dihadapanku. Satu menit terasa hening karena dawai sedang terbaring, tetapi
hati semakin melengking karena terus terbanting. Wajah manismu terus tanpa
henti terbayang –bayang , seakan wajahmu selalu ada disetiap arah dimana aku
menoleh.
Kau
disana masih terus menatapku dengan tatapan penuh tanda Tanya, seakan kau
mendugaku ingin mengucapkan sesuatu. Dan itu tidak salah. Dugaanmu benar, aku
ingin sekali berucap. Tapi, pesonamu selalu menyekap mulutku sehingga aku sulit
tuk berucap. Ku lihat kau mengerenyitkan dahi karena ku tahu kau keheranan
melihat mulutku bergetar. Tapi itu semua ulahmu, ulah pesonamu, pesona anggun
bak permaisuri kerajaan.
Ku
lihat gitar disampingku yang sedari tadi aku terlantarkan dengan dawai yang
masih terdiam membisu. Ku ambil gitar itu, lalu ku petik dawai-dawainya yang
langsung terdengar alunan melodi indah melankolisnya. Akhirnya ku mulai berucap
kepada sosok indah dihadapanku. “Kau tahu kan, petikan dawai takkan indah jika
hanya satu nada, tapi cinta tetap indah walau hanya satu kata. Dan kau tahu
kan, bahwa nada hanya akan indah jika telah tersusun menjadi sebuah melodi? Tapi
kau harus tahu kalau hidupku akan tetap terasa indah walaupun hanya ada satu
cinta, yaitu kamu, sang Dawai Cinta”.

3 komentar:
Fakkar keren bgt asli blognya. . . .
makasih hehe
It's great :)
Post a Comment