Kelam,
itulah yang kini kurasakan. Dingin, hampa, dan apapun itu, semuanya telah
membuatku gelap. Aku terpuruk sendiri disudut kota yang antah-berantah ini.
Walaupun dikeramaian kehidupan ini, aku masih merasa sepi yang begitu menyiksa.
Belum ada titik terang yang bisa terlihat. Tapi gelap, seakan terus-menerus
mengejarku.
Ketakutan
akan diam terus-menerus menghantuiku, yang membuatku merasa seakan aku ini
adalah pecundang hina yang terlupakan hadirnya. Usang dan gersang menghiasi
setiap detiknya yang membuat duniaku ini semakin gelap saja. Aku ingin sekali
membunuh, membunuh gelap ini. Mengambilnya dan menghancurkannya dengan kepalan
ini, lalu membuangnya jauh dari keabadian ini. Tapi, apakah itu mungkin? Apakah
aku akan menang? Atau aku malah semakin terjerembab dalam kegelapan ini?
Tapi
ketahuilah, bahwa aku tidak sepecundang itu. Setelah aku melihat titik terang
itu, aku semakin yakin bahwa keyakinan dalam diri ini lebih hebat dari apapun.
Aku sekarang bisa menerobos kegelapan walau hanya dengan setitik cahaya. Teman,
tunggu aku disana! Aku akan bebas sekarang.
Akhirnya
aku dapat melihat guratan cekung didepanku, disemua realita yang Nampak. Teman,
apakah kau ingin tahu titik terang itu? Kurasa kau sudah tahu jawabannya jika
guratan cekung itu kau perlihatkan. Terima kasih cahaya, karena-Mu aku bisa
membunuh kegelapan.

2 komentar:
Fakkar, aku udah bikin blog http://diaryjanah.blogspot.com
visit yaaa, wkwkwk
mmmh... bagus-bagus. biasanya diary di privasi tapi sekarang diumbar-umbarkan haha. lanjutkan!!!
jangan lupa baca tulisan-tulisan lain diblog ini atau visit http://haqthinking.blogspot.com/
Post a Comment