“Tak ada kata yang bisa diucap, tak ada suara yang bisa didengar”
|
D
|
i taman yang indah itu, terlhat gadis cantik berkulit putih
seputih salju, berambut panjang kemerahan dengan dress berwarna putih bersih
bagaikan seorang bidadari terduduk diam di kursi taman berwarna putih pula.
Tatapannya melihat kesekitar dan di wajahnya selalu tersirat senyuman karena
keindahan yang dilihatnya. Tak jauh disana, dibawah pohon apel, seorang lelaki
tampan dengan kemeja birunya terduduk diam dan mencuri-curi pandang kearah sang
gadis cantik tadi. Terlihat senyum kagum dari wajah sang lelaki disaat matanya
memandangi sosok indah yang sedang terduduk di kursi taman itu. Mungkin tak
sedetikpun lelaki itu melewatkan keindahan sang bidadari yang sedang terduduk
di kursi taman tersebut.
Esok
hari dipagi itu, masih sama pemandangan di taman itu, yaitu seorang gadis
cantik bagai bidadari terduduk dikursi taman yang sama. Dan juga seorang lelaki
yang selalu memperhatikan si gadis dari bawah pohon apel. Dari hatinya yang
paling dalam, si lelaki ingin sekali berkenalan dengan gadis tersebut, tapi apa
daya, nyalinya belum terisi penuh untuk mendekati sosok indah itu. Dan ia masih
bertahan dengan merasakannya dari jauh.
Dihari
ketiga masih ditempat yang sama, suasana taman semakin indah dengan kicauan
burung-burung di pagi itu. Sang lelaki yang selalu duduk dibawah pohon apel itu
terlihat guratan berbeda diwajahnya.Guratan yang selalu cekung kini berubah
menjadi guratan cembung. Sambil melihat kearah kursi taman yang selalu diduduki
oleh seorang bidadari itu ia berkata.
“Pagi ini masih indah,
tapi kemanakah sang sosok indah yang selalu melengkapi pagi-pagi sepertibiasanya?”
Dan benar saja, ternyata sang gadis tidak terlihat disana
seperti biasanya. Namun tak lama kemudian datanglah si gadis kearah kursi taman
yang biasa ia duduki. Guratan cembung dari wajah sang lelaki itu perlahan-lahan
berubah menjadi guratan cekung kembali.
Seakan
ada kekuatan yang merasuki tubuhnya, si lelaki berjalan dengan santainya kearah
gadis itu. Dan dia duduk disebelahnyaSi gadis menoleh kearah sang lelaki dan
tersenyum. Kemudian dibalaslah senyuman itu oleh sang lelaki. Lalu si lelaki
memulai percakapan.
“Pagi yang indah dan
juga hari yang cerah.Apakah suasana hatimu seindah hari ini?”
Si gadis hanya terdiam.Lalu si lelaki mengulang kembali
perkataannya. Dan sama, si gadis masih saja terdiam. Tak menyerah si lelaki
akhirnya menyodorkan tangannya sebagai tanda perkenalan diri, dan akhirnya si
gadis menyadarinya dan menjabat tangan si lelaki itu.
“Aku Irama, tapi kau
bisa memanggilku Rama. Kamu siapa?” ucap si lelaki.
Si gadis tersenyum dan melakukan gerakan aneh pada
tangannya.Gerakan itu terlihat seperti sebuah bahasa isyarat.Si lelaki itu tampak
kebingungan, terlihat dari kerutan didahinya. Si gadis tersenyum melihat
kebingungan sang lelaki itu dan diapun mengambil sebuah buku catatan kecil dan
sebuah pena dari dalam tasnya yang sedari tadi ia kenakan. Ia menuliskan
sesuatu di buku catatan kecil itu.
“Hai Rama, aku Melodi.
Kamu bingungkan kenapa aku memilih menulis untuk menjawab pertanyaanmu?”
tulis sang gadis. Dan dibalas dengan anggukan sang lelaki. Kemudian si gadis
melanjutkan tulisannya.
“Jangan kaget ya, dan
mungkin kamu takkan menyangka bahwa aku ini adalah seorang gadis yang tuli dan
bisu”. Si lelaki terlihat terbengong setelah membaca tulisan sang gadis.
“Apakah kamu masih mau
berkenalan denganku setelah mengetahui kenyataan ini?”.Si gadis meneruskan
tulisannya.
Rama
melihat kearah Melodi dan tersenyum kepadanya, dan dibalaslah senyuman Rama
oleh Melodi.Lalu Melodi meneruskan tulisannya kembali.
“Tenang saja Rama, aku
bisa mengetahui apa yang kamu ucapkan.Karena aku bisa membaca gerakan bibirmu”.
“Tak peduli apakah
kamu bisa berbicara atau tidak, bisa mendengar atau tidak.Aku tetap senang bisa
berkenalan denganmu Melodi”.Balas Rama.
Merekapun
melanjutkan percakapan demi percakapan dengan guratan bahagia pada
masing-masing wajahnya.
To be continued …

2 komentar:
Ditunggu kelanjutan nya Hehe :-)
udah ada kok yang bagian 2 nya, dibaca ya :)
Post a Comment